Kisah Umar bin Khattab Takjub dengan Ajaibnya Bulan Rajab

Di bawah langit Madinah yang tenang, Khalifah Umar bin Khattab r.a. sedang berjalan menyusuri sudut-sudut kota untuk memastikan keadaan rakyatnya. Langkah kaki sang Amirul Mukminin terhenti ketika pandangannya tertuju pada sosok pria yang sangat memprihatinkan. Pria itu buta, lumpuh, dan hanya bisa terduduk lemas di tanah. Hati Umar terenyuh melihat penderitaan yang begitu berat membelenggu lelaki itu, hingga ia bergumam penuh keheranan, “Mengapa orang ini tidak memohon afiyah (keselamatan dan kesembuhan) kepada Allah?” Seorang pria yang berada di dekat sana segera menyahut dengan nada yang sarat akan sejarah, “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau mengenalinya? Inilah sisa-sisa dari mereka yang binasa karena doa yang dipanjatkan di bulan Rajab, inilah dampak dari mubahalah (kutukan doa) dari seseorang bernama Bariq.” Ketertarikan Umar pun bangkit. Ia segera memanggil seorang pria bernama Iyadh dan memintanya menceritakan kisah Bani Dhab’ah. Iyadh sempat ragu, ia berdalih bahwa itu hanyalah kisah kelam dari zaman Jahiliyah yang tak lagi berarti di masa Islam. Namun, Umar dengan ketegasannya menyahut bahwa justru dari kegelapan masa lalu, cahaya pelajaran bisa dipetik bagi umat masa kini. Iyadh pun mulai berkisah dengan suara yang berat. Dahulu, ia menikahi seorang perempuan dari keluarga Bani Dhab’ah yang memiliki sepuluh saudara laki-laki. Suatu ketika, saudara-saudara istrinya itu bersepakat untuk memisahkan mereka secara paksa. Iyadh telah memohon dengan nama Allah, ia telah mengingatkan mereka akan sucinya hubungan kekerabatan, namun keserakahan dan kesombongan telah menutup hati mereka. Dengan penuh kesabaran yang bergetar, Iyadh menunggu hingga datangnya bulan Rajab, bulan Allah yang disucikan bahkan oleh kaum Jahiliyah. Di tengah keheningan bulan haram itu, Iyadh menengadahkan tangan ke langit dan melantunkan bait doa yang menggetarkan: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan sungguh-sungguh atas Bani Dhab’ah. Binasakanlah mereka semua, namun sisakanlah satu orang. Jadikanlah ia lumpuh terduduk, dan butalah matanya hingga ia butuh penuntun jalan.” Keajaiban pun terjadi secepat kilat. Seluruh saudara sang istri tewas seketika, menyisakan satu orang yang kini berada di hadapan Umar sebagai tanda kekuasaan Tuhan. Umar bin Khattab tertegun, bibirnya berucap penuh kekaguman, “Demi Allah, aku belum pernah mendengar kisah sengeri ini.” Namun, suasana semakin magis ketika seorang pria lain bangkit dan menawarkan kisah yang lebih menakjubkan. Pria ini menceritakan pengalamannya saat dirampas hartanya oleh Bani Muammal. Di tengah kezaliman kaum itu, hanya seorang pria bernama Riyah yang berani membela dan melarang kaumnya berbuat jahat. Sang korban tidak membalas dengan pedang, melainkan menunggu fajar bulan Rajab menyingsing. Ia berdoa agar Allah menghancurkan mereka semua dengan bongkahan batu atau pasukan besar, kecuali Riyah yang telah berbuat baik. Seketika, saat Bani Muammal sedang melintasi lereng gunung, gunung tersebut seolah runtuh atas perintah-Nya. Mereka semua tertimbun, lenyap ditelan bumi, kecuali Riyah yang diselamatkan Allah tanpa luka sedikit pun. Keheningan menyelimuti majelis Umar saat kisah demi kisah tentang keajaiban bulan Rajab terus mengalir, termasuk kisah sepuluh bersaudara yang tewas tertimbun di dalam sumur yang mereka gali sendiri karena mencoba merampas harta anak yatim. Mendengar betapa dahsyatnya Allah menjaga kesucian bulan Rajab bahkan di mata kaum Jahiliyah, orang-orang di sekitar Umar bertanya dengan penuh harap, “Wahai Amirul Mukminin, jika kepada orang Jahiliyah saja Allah menampakkan keadilan-Nya seperti itu, bukankah kita sebagai umat Islam lebih pantas mendapatkan pertolongan serupa?” Umar bin Khattab memandang mereka dengan tatapan yang dalam. Ia menjelaskan bahwa dahulu Allah langsung menurunkan hukuman di dunia untuk mencegah manusia saling menghancurkan dalam kegelapan tanpa hukum. Namun kini, Allah telah menetapkan Hari Kiamat sebagai waktu pembalasan yang sesungguhnya. Dan bagi Umar, pembalasan di Hari Kiamat itu jauh lebih dahsyat, lebih pahit, dan lebih adil bagi siapapun yang berbuat zalim di bulan-bulan suci Allah. Kisah yang dinukil Ibnu Asakir dalam Fadhail Rajab (meski perlu dikroscek lagi kebenarannya) ini menjadi pengingat abadi bahwa Rajab bukan sekadar bulan, melainkan saksi bisu betapa doa yang dipanjatkan dengan hati yang hancur karena kezaliman akan selalu menemukan jalannya menembus langit.

Source; https://islami.co/kisah-umar-bin-khattab-takjub-dengan-ajaibnya-bulan-rajab/