
Imam Al-Razi menjelaskan dalam karya tafsirnya bahwa orang Quraisy merasa heran terhadap para pemuda penghuni gua (Ashab al-kahf) dan mereka menanyakannya kepada Rasulullah Saw dengan tujuan untuk menguji Rasulullah. Karena itu dalam surah al-Kahfi ayat 9, Allah SWT berfirman, “Apakah engkau mengira bahwa para penghuni gua dan al-raqim merupakan sesuatu yang mengherankan dari tanda-tanda (kekuasaan) kami? Sesungguhnya seluruh dari tanda-tanda kekuasaan Allah itu menakjubkan. Dia menciptakan langit dan bumi, menghiasi bumi dengan apa yang ada di atasnya berupa tumbuhan, hewan, air, dan seterusya. Kemudian menjadikan setelah itu menjadi tanah yang kosong dari semuanya. Kalau Tuhan mampu melakukan semua itu, tentu bukan sesuatu yang aneh dan mustahil bagi Allah hanya untuk menidurkan sekelompok manusia selama tiga ratus tahun demi melindungi mereka? Jadi, ayat ini menjelaskan bahwa kisah para penghuni gua bukanlah sesuatu yang menakjubkan jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi. Terkait asbabul nuzul, sebagian ahli tafsir menjelaskan, pada saat itu kaum Quraisy mengutus al-Nadhr bin al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’ayt kepada para pendeta Yahudi di Madinah. Orang-orang Quraisyh berkata kepada keduanya, “Tanyalah kepada mereka (pendeta Yahudi Madinah) tentang Muhammad, gambarkan sifat-sifatnya kepada mereka, dan ceritakan kepada mereka apa yang ia sampaikan. Karena mereka adalah ahlul kitab yang pertama, dan mereka memiliki ilmu yang tidak kita miliki tentang para Nabi.” Akhirnya, keduanya berangkat ke Madinah dan mereka bertanya kepada para pendeta Yahudi di sana tentang Rasulullah SAW, serta menjelaskan kondisinya kepada mereka. Para pendeta itu berkata: “Tanyalah kepadanya tentang tiga hal yang kami perintahkan kepada kalian. Jika ia memberitahu kalian tentang ketiganya, maka ia adalah seorang Nabi yang diutus. Namun jika ia tidak mampu menjawabnya, maka ia hanyalah seorang yang mengada-ada. Tanyalah tentang para pemuda yang hidup pada masa terdahulu, seperti apa kisah mereka, karena cerita mereka sangat menakjubkan. Tanyakan tentang seorang pengembara yang menjelajahi Timur dan Barat, seperti apa kisahnya. Terakhir, tanyakan kepadanya tentang ruh: apakah itu? Jika ia mampu menjawab semua hal itu, maka ia benar-benar seorang Nabi. Ikutilah ajarannya.” Setelah mendengar nasihat ini, Al-Nadhr dan Uqbah kembali ke Mekah dan melaporkan hasil obrolan mereka dengan pendeta Yahudi kepada kaum Quraisy. Orang-orang Quraisy pun mendatangi Nabi Muhammad SAW dan menanyakan tiga hal di atas kepadanya. Rasulullah berkata, “Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok.” Beliau tidak mengucapkan “insyaallah” pada saat itu. Kaum Quraisy pun pergi. Akan tetapi, wahyu dari Allah SWT terkait jawaban dari pertanyaan ini tidak langsung turun. Rasulullah sudah menunggu lima belas hari. Akhirnya penduduk Mekah mulai membuat isu dan berita heboh. Mereka mengatakan, “Muhammad berjanji kepada kita besok, tetapi sudah lima belas hari berlalu dan ia belum memberi tahu kami sedikit pun tentang apa yang kami tanyakan.” Tidak turunnya wahyu dalam waktu yang dekat membuat Rasulullah SAW sedih, apalagi ucapan orang-orang Mekah semakin menyulitkan beliau. Kemudian barulah Jibril turun dengan membawa surat al-Kahf, di mana di dalamnya terdapat teguran Allah kepada beliau karena sudah sedih terhadap mereka, serta menjelaskan pemberitaan tentang apa yang mereka tanyakan mengenai para pemuda itu, lelaki pengembara, dan masalah ruh. Terkait jawaban tentang ruh, Allah SWT berfirman: وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS: Al-Isra’ ayat 85) Makna Al-Kahf Al-Kahf dalam bahasa Arab diartikan sebagai lubang yang luas yang terdapat di gunung. Bila tidak luas disebut gār. Bentuk jamaknya kuhūf. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah gua yang dijadikan tempat tinggal oleh para pemuda tersebut. Sedangkan ar-raqīm, yang terdapat dalam ayat 9, ulama berbeda pendapat: ada yang mengatakan itu nama anjing mereka; ada yang mengatakan itu nama gunung atau lembah tempat gua itu berada; ada juga yang mengatakan itu nama desa asal mereka. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ar-raqīm adalah lauhul mahfudz di mana tertulis nama-nama mereka, nasab mereka, dan kisah mereka, sehingga raqīm bermakna marqūm (yang tertulis), dari kata raqamtu al-kitāba (aku menuliskan kitab). Setelah menjelaskan bahwa kisah para pemuda ini bukanlah sesuatu yang aneh, karena Allah Maha Kuasa, Allah SWT kemudian pada surat al-Kahf ayat 10 menjelaskan tentang doa yang dibaca para pemuda yang bersembunyi dalam gua tersebut. Allah SWT berfirman: إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقالُوا رَبَّنا آتِنا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنا مِنْ أَمْرِنا رَشَداً Artinya “(Ingatlah) ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu berkata: ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dan sediakanlah bagi kami petunjuk bagi urusan kami.’” Permohonan mereka “wa hayyi’ lanā min amrinā rashadā” berarti memohon agar Allah memudahkan urusan mereka, menghilangkan kesulitan, serta memberi jalan keluar yang benar. Yang dimaksud dengan “urusan” di sini adalah keadaan mereka ketika meninggalkan keluarga dan kampung halaman mereka, serta memisahkan diri dari keyakinan batil kaum mereka. Allah menggunakan kata “al-fityah” (para pemuda) untuk menegaskan bahwa mereka adalah pemuda yang jumlahnya sedikit, namun keberanian dan keimanan mereka luar biasa sehingga mereka mengorbankan segalanya demi keyakinan mereka. Penggunaan kata kerja “awā” mengisyaratkan bahwa begitu menemukan gua, mereka langsung menetap di dalamnya dengan penuh rasa lega, seakan-akan gua itu adalah tempat yang mereka cari-cari. Mereka lebih memilih gua sempit itu daripada rumah mereka yang nyaman karena gua itu melindungi mereka dari kejaran kaum zalim. Huruf fa’ dalam “fa-qālū rabbana ātinā…” menunjukkan bahwa setelah mereka masuk gua, mereka langsung berdoa, tanpa menunda. Kata “raḥmatan” yang diberi tanwīn menunjukkan besarnya rahmat yang mereka mohon: rahmat yang mencakup keamanan, rezeki, dan ampunan. Al-Qurtubi menyatakan bahwa ayat ini menjadi dalil jelas tentang berpindah tempat demi menjaga agama, meninggalkan keluarga dan tanah air untuk menghindari fitnah serta menjaga iman. Pemuda dalam Gua Tertidur Setelah itu, Allah SWT pada ayat berikutnya (ayat 11) menjelaskan apa yang terjadi setelah mereka berlindung di gua dan berdoa. Allah SWT berfirman: فَضَرَبْنا عَلَى آذانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَداً Artinya: “Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama bertahun-tahun.” Kata “dharaba” di sini dapat diterjemahkan, Allah menutup pendengaran mereka, sehingga mereka tidur pulas tanpa terganggu selama ratusan tahun. Mereka tidak akan merasakan apapun di sekitar mereka. Singkatnya, setelah para pemuda itu menetap di gua dan berdoa Allah menutup pendengaran mereka, sehingga mereka tidak mendengar apa pun yang dapat membangunkan mereka. Mereka pun terus tertidur dalam tidur panjang itu selama bertahun-tahun yang banyak, sebagaimana dijelaskan kemudian dalam firman-Nya: وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعاً Artinya: “Mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.” (Surat Al-Kahfi ayat 25) Allah secara khusus menyebut telinga, padahal seluruh indera mereka tertutup dari kesadaran, karena pendengaran adalah pintu pertama untuk bangun, dan seseorang tidak akan mengalami tidur berat kecuali ketika pendengarannya benar-benar terhenti. Kemudian Allah menjelaskan apa yang terjadi setelah tidur panjang itu, pada ayat berikutnya (ayat 12) Allah SWT berfirman: ثُمَّ بَعَثْناهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصى لِما لَبِثُوا أَمَداً Artinya: “Kemudian Kami bangunkan mereka agar Kami mengetahui kelompok manakah yang lebih tepat dalam menghitung lamanya mereka tinggal.” Asal makna ba‘th adalah menggerakkan sesuatu setelah diam, seperti “ba‘atha al-nāqah”—membangunkan unta dari tempat duduknya. Di sini maknanya adalah membangunkan. Para mufasir menjelaskan bahwa “dua kelompok” itu mungkin: Para pemuda itu sendiri dan penduduk kota, Atau orang beriman dan kafir di kota itu, Atau dua kelompok orang beriman yang berbeda pendapat tentang lamanya mereka tidur. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa kedua kelompok (al-ḥizbān) yang dimaksud dalam ayat sama-sama berasal dari para pemuda penghuni gua. Sebab Allah berfirman setelah itu: “Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya.” Mereka pun berkata: “Berapa lama kalian tinggal?” Sebagian dari mereka menjawab: “Sehari atau sebagian hari.” Sebagian lainnya berkata: “Tuhan kalian lebih mengetahui berapa lama kalian tinggal.” Kesimpulannya, peristiwa Allah menidurkan para pemuda itu dengan sangat lama kemudian membangunkan mereka adalah cara Allah menampakkan kebenaran kepada manusia. Allah juga membangunkan mereka setelah itu tanpa mengalami perubahan keadaan. Syekh Al-Thanthawi mengatakan, ini menjadi bukti yang sangat jelas atas kekuasaan Allah, serta kewajiban mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, dan bahwa kebangkitan setelah kematian adalah suatu kebenaran yang tidak diragukan sedikit pun.
Source; https://islami.co/kisah-pemuda-ashabul-kahfi-dalam-surah-al-kahf/
