
Bagi banyak orang modern, pergantian tahun sering kali dirayakan dengan kembang api yang bising atau sekadar ucapan selamat yang seragam di media sosial. Namun, jika kita menyingkap lembaran sejarah hidup para Sahabat Nabi dan para ulama besar (Salafush Shalih), kita akan menemukan pemandangan yang sangat berbeda. Bagi mereka, awal tahun bukanlah sekadar pergantian angka di kalender, melainkan sebuah “Momentum Transendental”, yaitu sebuah momentum evaluasi jiwa.
Para ulama masa lalu memandang waktu sebagai sebuah anomali. Ada kesadaran bahwa setiap detik yang berlalu adalah bagian dari diri mereka yang hilang secara permanen. Mari kita selami bagaimana cara mereka mengetuk pintu langit di awal tahun melalui jejak-jejak literasi klasik yang mereka tinggalkan. Meskipun, kisah-kisah berikut secara khusus membahas awal tahun Hijriyah, namun apa salahnya jika renungan-renungan ini kita kalibrasi juga untuk awal tahun Masehi yang baru saja berganti.
Tradisi “Doa Sepuluh” Para Sahabat Nabi Salah satu keajaiban yang diwariskan oleh para Sahabat Nabi Saw adalah sebuah doa yang dikenal sangat komprehensif. Al-Hafiz Al-Haitsami dalam kitab Majma’ Az-Zawaid merujuk pada riwayat Abdullah bin Hisyam bahwa para Sahabat biasanya saling mengajarkan doa ini sebagaimana mereka mengajarkan Al-Qur’an ketika memasuki bulan atau tahun baru:
اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ، وَالإِيمَانِ، وَالسَّلامَةِ، وَالإِسْلامِ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Allahumma adkhilhu ‘alaina bil amni wal iman, was salamati wal islam, wa ridhwanin minar rahman, wa jiwarin minasy syaithan.
” Artinya, “Ya Allah, masukkanlah tahun ini kepada kami dengan membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman, keridhaan dari Ar-Rahman (Allah), dan perlindungan dari gangguan setan.” Doa ini sepertinya agak aneh bagi kita yang hidup saat ini.
Para Sahabat tidak hanya meminta materi. Mereka meminta “keamanan” (amn) terlebih dahulu, karena tanpa rasa aman, ibadah tidak akan khusyuk. Mereka meminta “keridhaan”, karena mereka sadar bahwa pencapaian tertinggi manusia bukanlah kesuksesan duniawi, melainkan senyum takdir dari Sang Pencipta. Ini adalah doa yang menyeimbangkan antara perlindungan vertikal (dari setan) dan stabilitas horizontal (keamanan sosial). Ibnu Al-Jauzi dan “Tangisan Penyesalan” Seorang ulama besar bernama Ibnu Al-Jauzi dalam adikaryanya, Shayd al-Khatir, memiliki perspektif yang sangat menyentuh tentang awal tahun. Baginya, awal tahun adalah waktu untuk “Muhasabah Inkishaf” yaitu pembongkaran aib diri di hadapan Tuhan. Beliau pernah menggambarkan bahwa manusia sering kali tertidur dalam kelalaian, dan pergantian tahun adalah lonceng yang membangunkannya. Keajaiban sikap Ibnu Al-Jauzi terletak pada kerendahhatiannya. Beliau tidak memulai tahun dengan daftar keinginan (wishlist), melainkan dengan permohonan ampun atas napas yang terbuang sia-sia.
Ibnu Al-Jauzi mengingatkan bahwa setiap detak jantung adalah langkah menuju liang kubur. Bagi beliau, awal tahun adalah waktu yang tepat bagi seorang hamba berdiri di tepi jurang waktu, menoleh ke belakang untuk melihat tumpukan khilaf, lalu menghadap ke depan untuk memohon kekuatan baru. Hasan Al-Bashri: Berharap Kebaikan dari Waktu yang Hilang Hasan Al-Bashri, sang zahid legendaris yang nasihat-nasihatnya banyak dibukukan dalam Hilyatul Auliya, sering mengingatkan bahwa setiap hari baru, apalagi tahun baru, adalah ibarat “makhluk” yang berbicara kepada manusia.
Beliau berkata:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian dirimu.”
Para ulama seperti beliau biasanya memanjatkan doa agar diberi “Barakah dalam Waktu.” Mereka sangat takut jika tahun berganti namun kualitas jiwa tetap stagnan. Salah satu doa yang sering mereka gantungkan adalah permohonan agar Allah tidak membiarkan mereka disibukkan oleh hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat di akhirat.
Perbedaan Tahun Baru Kita dan Para Ulama Terdahulu Jika kita mencoba membedah perbandingan antara cara para pendahulu menyikapi waktu dengan kebiasaan manusia modern hari ini, kita akan menemukan sebuah jurang paradigma yang cukup dalam.
Dalam hal fokus utama, masyarakat modern cenderung terjebak dalam perayaan yang bersifat lahiriah; kemeriahan fisik, pesta pora, dan gegap gempita visual menjadi standar utama dalam menandai perubahan kalender. Sebaliknya, tradisi Salafush Shalih justru menarik diri ke dalam batin. Bagi mereka, awal tahun adalah musim untuk membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) dan membasuh noda-noda masa lalu melalui tobat yang mendalam.
Begitu pula dalam hal visi dan orientasi. Resolusi modern sering kali berputar pada akumulasi aset duniawi; peningkatan karier, kekayaan, dan pencapaian material lainnya. Namun, bagi para ulama, visi mereka melampaui itu semua.
Awal tahun adalah momentum untuk menghitung kembali “modal” amal untuk bekal di akhirat kelak. Mereka tidak takut akan berkurangnya tabungan, melainkan takut akan berkurangnya sisa umur tanpa bertambahnya kualitas iman. Perbedaan ini pun menciptakan suasana yang kontras.
Saat dunia modern dipenuhi dengan kebisingan dan euforia yang riuh, suasana di majelis-majelis dan kamar sujud para ulama justru dilingkupi oleh keheningan yang khusyuk dan suasana kontemplatif yang syahdu.
Mereka menemukan kedamaian dalam kesunyian dialog dengan Tuhan, sementara manusia hari ini sering kali mencari kebahagiaan dalam keramaian yang semu. Bagi kita yang hidup di era distraksi ini, mengambil satu jam di awal tahun untuk duduk menyendiri, mematikan ponsel, dan berdialog dengan Allah sebagaimana para Sahabat berdialog, adalah sebuah kemewahan spiritual.
Kita bisa memulai dengan mengakui kelemahan kita, mensyukuri napas yang masih tersisa, dan meminta agar tahun ini kita tidak hanya bertambah usia, tapi juga bertambah “cahaya.” Jika kamu ingin mengikuti jejak keajaiban spiritual mereka, cobalah untuk merenungkan doa ini di setiap awal masa.
Doa ini sering dibaca para salaf:
اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ فَاغْفِرْهُ لِي، وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّي
Artinya: “Ya Allah, apa yang aku lakukan di tahun ini dari hal-hal yang Engkau larang namun aku belum bertobat, maka ampunilah aku. Dan apa yang aku lakukan di tahun ini dari hal-hal yang Engkau ridai dan Engkau janjikan pahala, maka terimalah dariku.”
Ala kulli hal, awal tahun hanyalah sebuah garis start. Keajaibannya bukan terletak pada garis itu sendiri, melainkan pada seberapa tulus kita meminta Sang Pemilik Waktu untuk menuntun langkah kita hingga ke garis finish nanti.
Wallahu a’lam.
Source; https://islami.co/bukan-resolusi-ini-yang-diminta-para-ulama-saat-pergantian-tahun/
