Abu al-Hakam, Julukan Lama Abu Jahal Sebelum Datang Islam

Abu Jahal bukan julukan untuk orang bodoh. Pasalnya, sebelum Islam datang, ia dijuluki sebagai Abu al-Hakam, pemilik kebijaksanaan.

Orang-orang di Makkah, dulu, memanggilnya Abu al-Hakam. Konon, ia pandai menengahi sengketa, duduk tenang di majelis, dan suaranya terdengar seperti keputusan yang menutup perdebatan. Itulah cerita yang diwariskan, meski tak ada catatan yang betul-betul tegas membenarkannya. Kadang saya curiga, gelar itu hanyalah pujian yang diberikan karena orang-orang merasa aman berada di sekitar kekuasaan. Kita pernah mengangguk pada orang yang tidak terlalu kita percaya, hanya karena ia duduk di kursi lebih tinggi.

Saya membayangkan ia berjalan di pasar Quraisy dengan wajah yang tegas. Seorang anak kecil memanggilnya “Ayah Kebijaksanaan”. Nama seperti itu lebih berat daripada memikul karung gandum. Di dalam hati, barangkali ia menyukai gelar itu, sebagaimana seorang pejabat hari ini menyukai huruf-huruf panjang di belakang namanya. Gelar dapat terasa seperti jubah yang menghangatkan, padahal bisa saja ia justru membuat pemakainya lupa udara luar.

Suatu hari, seorang lelaki muda bernama Muhammad—kerabat jauh, yatim, jujur, tidak punya gelar apa-apa—mengatakan bahwa ia membawa pesan langit. Abu al-Hakam menatapnya lama. Mungkin ia melihat kilat kecil di mata Muhammad. Mungkin ia merasa sesuatu bergerak di dalam hati, sesuatu yang lama tak ia sentuh. Tetapi, ia menepisnya. Kebenaran, bila benar itu kebenaran, datang dengan konsekuensi yang mengacak peta kekuasaan. Tidak ada yang suka jika kursi goyah.

Sejak hari itu, kata orang, kebijaksanaan yang dilekatkan pada namanya mulai retak. Ia menolak mendengar. Menolak bertanya. Menolak meyakini bahwa seseorang yang tanpa gelar bisa membawa cahaya. Ia tertawa, seperti orang modern yang menertawakan kritik rakyat kecil. Gelar sering membuat orang lupa belajar.

Kadang saya bertanya dalam hati: benarkah ia pernah bijak, atau nama itu hanya fatamorgana yang kita percaya karena diulang banyak mulut? Seperti gelar doktor kehormatan yang diberikan dalam upacara universitas, bukan karena penelitian panjang, tetapi karena pendonor menyumbang gedung baru. Kita, manusia, punya kebiasaan aneh: menyamakan kekuasaan dengan keutamaan, seolah emas di jari otomatis menjamin kejernihan pikiran.

Lalu, sejarah memutar halamannya. Di Badar, ia jatuh. Para sahabat kemudian memanggilnya Abu Jahal—bapak kebodohan. Nama baru itu menempel lebih keras daripada yang lama. Ironinya telak. Ia kehilangan hikmah bukan karena tidak berpengetahuan, melainkan karena terlalu yakin pada pengetahuan yang dimilikinya. Sebagian orang menganggap itu hukuman. Kita menghadapinya setiap kali merasa benar, namun enggan membuka pintu sedikit saja bagi kebenaran yang berbeda.

Sufi berkata, “Yang menghalangi manusia dari Tuhan bukan gelapnya malam, tetapi terangnya ego.” Mungkin itu satu-satunya penjelasan mengapa seorang bernama al-Hakam bisa berubah menjadi Jahal. Cahaya tidak menguap, hanya ditolak. Kebenaran bukan tak terdengar, hanya tidak didengarkan.

Kadang, dalam kesunyian, saya merasa Abu Jahal belum mati. Ia duduk di ruang konferensi ketika seorang junior memberi ide baru, lalu kita menjawab: “Kamu belum mengerti.” Ia muncul ketika seseorang mengkritik tulisan kita, dan kita balas dengan menyebutnya iri. Ia berbisik saat kita lebih mencintai gelar daripada proses belajar. Ia hidup dalam setiap ketegasan yang menolak bertanya, dalam setiap kepintaran yang menolak rendah hati.

Barangkali, jika sejarah mau memberi kesempatan lain, ia akan mengembalikan nama lamanya. Tapi, sejarah tidak bekerja seperti itu. Nama, sekali jatuh, jarang kembali. Ia hanya menyisakan pertanyaan bagi generasi sesudahnya: apakah gelar yang kita sandang hari ini benar-benar mencerminkan isi kepala dan hati, atau hanya mantel yang kita pakai agar tampak tinggi di mata orang?

Saya ingat satu catatan tua yang entah siapa menulisnya: “Yang bijak bukan yang paling tahu, tapi yang paling siap menerima kebenaran ketika ia datang.”

Jika Abu al-Hakam hidup hari ini, mungkin ia duduk di podium seminar, membahas strategi perubahan, sementara seseorang di sudut ruangan membawa ide sederhana yang bisa membuat semuanya lebih baik. Pertanyaannya, apakah ia akan mendengar?

Kita tidak pernah tahu. Namun, sejarah memberi kita petunjuk. Kebenaran yang ditolak tumbuh menjadi ironi. Abu al-Hakam menjadi Abu Jahal. Nama berganti, hidup berubah, tetapi pelajarannya tetap: gelar bukan jaminan kebijaksanaan. Hikmah adalah kerja batin yang harus diperbarui setiap hari, seperti lampu yang perlu minyak agar tetap menyala. Tanpa itu, terang berubah menjadi bara, lalu padam.

Setiap kali kita menolak kritik yang sepele, meremehkan pendapat yang tidak sejalan, atau merasa terlalu penting untuk belajar hal kecil, mungkin saat itu—dalam skala kecil—kita sedang mengulang kisah yang sama. Bedanya hanya tidak ada padang Badar untuk mengabadikannya. Hanya hati yang tahu siapa kita hari ini: Abu al-Hakam, atau Abu Jahal.

Source; https://islami.co/abu-al-hakam-julukan-lama-abu-jahal-sebelum-datang-islam/