
BincangSyariah.Com– Rasm Utsmani adalah salah satu warisan agung dalam upaya menjaga keaslian Al-Qur’an. Istilah ini terdiri dari dua kata: rasm, yang oleh para ulama qirā’ah diartikan sebagai jejak atau peninggalan tulisan (al-atsar), dan utsmānī, yang merujuk pada Khalifah Utsman bin Affan, tokoh yang berperan besar dalam penyatuan mushaf Al-Qur’an.
Secara istilah, Rasm Utsmani berarti metode penulisan Al-Qur’an sebagaimana dibukukan oleh para kuttābul wahy (penulis wahyu) dan disahkan oleh Khalifah Utsman. Perlu dipahami bahwa rasm bukanlah kaligrafi, sebagaimana sering disalahpahami. Rasm adalah kaidah penulisan, sementara kaligrafi adalah gaya seni dalam menulis.
Dalam literatur, rasm dibagi menjadi tiga jenis:
- Rasm Qiyāsī (Rasm Imlā’ī)
Tulisan yang mengikuti pengucapan huruf hijaiyah secara penuh. Misalnya kata jalasa ditulis جلس, persis seperti bunyi bacaannya. - Rasm ‘Arūdhī
Metode penulisan berdasarkan wazan (timbangan) dalam syair Arab. Rasm ini mempertimbangkan keselarasan antara bunyi dan struktur tulisan, dan biasanya digunakan para ahli ‘arudh untuk keperluan kajian syair. - Rasm Istilāhī (Rasm Utsmānī)
Rasm yang digunakan oleh para sahabat dalam penulisan mushaf Al-Qur’an, dengan kaidah tertentu yang kemudian menjadi standar penulisan mushaf.
Sejarah Lahirnya Rasm Utsmani
Sejak wahyu pertama turun, Nabi Muhammad SAW langsung memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya. Namun pada masa itu, tulisan masih tersebar pada beragam media: batu tipis, pelepah kurma, tulang, hingga kulit hewan.
Setelah Nabi wafat, terjadi Perang Yamamah yang menewaskan banyak penghafal Al-Qur’an. Melihat kondisi itu, Umar bin Khattab mendorong Khalifah Abu Bakar untuk membukukan Al-Qur’an. Zaid bin Tsabit ditunjuk memimpin pengumpulan ayat, dan pada masa itulah mushaf pertama selesai disusun.
Beberapa tahun kemudian, Islam menyebar ke banyak wilayah. Perbedaan qirā’ah di berbagai daerah mulai menimbulkan perselisihan, terutama saat penaklukan Armenia dan Azerbaijan, antara pasukan Syam yang membaca sesuai qirā’ah Ubay bin Ka’ab dan pasukan Irak yang mengikuti bacaan Abdullah bin Mas’ud.
Melihat potensi perpecahan, Khalifah Utsman bermusyawarah dengan para sahabat dan memutuskan untuk menyeragamkan mushaf. Mushaf standar kemudian disalin dan dikirim ke beberapa kota besar. Riwayat paling masyhur menyebutkan jumlahnya lima: ke Kufah, Bashrah, Syam, Madinah, dan Makkah.
Proses penyalinan mushaf dilakukan dengan sangat ketat. Setiap ayat hanya ditulis setelah ada dua saksi yang pernah menerima langsung dari Nabi. Ketelitian ini tampak dalam kasus ayat:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى
Artinya; Peliharalah semua shalat (fardu) dan shalat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk.
Ketika Hafshah mengusulkan tambahan penjelas, Umar bertanya apakah ada bukti bahwa tambahan itu bagian dari Al-Qur’an. Karena tidak ditemukan saksi, tambahan itu tidak dimasukkan. Sikap kehati-hatian inilah yang menjamin keaslian mushaf.
Perkembangan Tanda Baca
Pada awalnya, mushaf ditulis tanpa harakat dan tanpa titik karena para sahabat langsung menerima bacaan dari Nabi, sehingga tidak terjadi kekeliruan. Namun, setelah Islam berkembang dan banyak non-Arab masuk Islam, ulama merasa perlu membuat sistem tanda baca.
Inisiatif ini dipelopori Abu al-Aswad Ad-Du’ali pada masa Tabi’in. Upaya tersebut kemudian disempurnakan oleh murid-muridnya, Nasr bin Asim dan Yahya bin Ya’mur, hingga akhirnya berkembang menjadi sistem tanda baca Al-Qur’an yang kita kenal hari ini.
Tauqifi atau Ijtihadi? Perbedaan Pendapat Ulama
Mengenai apakah Rasm Utsmani berasal langsung dari tuntunan Nabi (tauqifi) atau hasil ijtihad sahabat, para ulama berbeda pendapat.
- Jumhur ulama berpendapat bahwa rasm ini tauqifi, karena penulisan wahyu dilakukan di hadapan Nabi.
- Sebagian ulama lain, seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Abdus Salam, menyatakan bahwa rasm ini adalah ijtihad sahabat, dengan pertimbangan untuk menjaga stabilitas bacaan dan keseragaman mushaf di seluruh wilayah Islam.
Rasm Utsmani bukan sekadar teknik penulisan, melainkan warisan intelektual dan spiritual yang memastikan bahwa Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya sejak pertama kali diturunkan hingga hari ini. Melalui rasm inilah umat Islam di seluruh dunia dapat membaca mushaf yang sama, dengan keutuhan makna yang terpelihara sepanjang zaman.
Source; https://bincangsyariah.com/khazanah/sejarah-islam/rasm-utsmani-seni-tulisan-yang-menjaga-keaslian-al-quran/
